RSS

Minggu, 19 Mei 2013

Teori Kepribadian Menurut B.F.Skinner


B.F. SKINNER

        A.       BIOGRAFI
Skinner adalah anak dari seorang pengacara bernama Wiliam Skinner dan Grace Mange Skinner, ia  lahir pada tanggal 20 Maret 1904.Setelah wisuda, ia menekuni dunia tulis menulis sebagai profesinya selama dua tahun. Pada tahun 1928, ia melamar masuk program pasca sarjana psikologi Universitas Harvard. Ia memperoleh MA pada tahun 1930 dan Ph.D pada tahun 1931. Pada tahun 1945, dia menjadi kepala departemen psikologi Universitas Indiana. Kemudian 3 tahun kemudian, tahun 1948, dia diundang untuk datang lagi ke Universitas Harvard.Di Universitas tersebut dia menghabiskan sisa karirnya.
Skinner adalah seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan, seperti melakukan berbagai penelitian, membimbing ratusan calon doktor, dan menulis berbagai buku. Meski tidak sukses sebagai penulis buku fiksi dan puisi, ia menjadi salah satu penulis psikologi terbaik. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Walden II. Pada tanggal 18 Agustus 1990, Skinner meninggal dunia karena penyakit Leukemia

        B.        POKOK – POKOK TEORI SKINNER

1.     Behaviorisme Ilmiah
Skinner menekankan bahwa perilaku manusia mestinya dipelajari secara ilmiah.Behaviorisme ilmiah berkeyakinan kalau perilaku dapat dipelajari dengan baik tanpa harus mengacu pada konsep kebutuhan, insting, ataupun motif.Untuk menjadi ilmiah, Skinner menegaskan kalau psikologi harus menghindari faktor-faktor kejiwaan internal dan membatasi diri hanya kepada peristiwa- peristiwa fisik yang bisa diamati.Meskipun skinner yakin bahwa kondisi internal berada diluar wilayah ilmu tetapi dia tidak menyangkal keberadaannya.Kondisi seperti rasa lapar, emosi, nilai keyakinan diri, kebutuhan akan agresivitas, keyakinan keberagaman, dan niat jahat sungguh ada namun hal ini bukan penjelasan bagi perilaku manusia.Behaviorisme ilmiah Skinner mengikuti prinsip-prinsip :

1. Filsafat ilmu
            Skinner menggeneralisasikan dari studi-studi perilaku hewan kepada studi-studi tentang perilaku anak-anak dan kemudian studi- studi tentang perilaku orang dewasa.Skinner menggunakan prinsip-prinsip yang diambilnya dari studi-studi laboratorium untuk mengiterpretasikan perilaku manusia namun menegaskan kalau interpretasi tidak boleh dicmpuradukkan dengan penjelasan, kenapa manusia bersikap seperti sekarang.
2. Karakteristik ilmu
Menurut Skinner ilmu memiliki tiga karakter utama yaitu
1.    Ilmu bersifat kumulatif
2.    Ilmu adalah sikap yang lebih menghargai sifat observasi empiris
Yaitu sikap untuk melihat fakta melebihi dari apapun.Secara khusus ada tiga komponen bagi sikap ilmiah :
1.      Dia menolak kewibawaan seseorang dibidang tertentu, termasuk kewibawaan teoritisnya sendiri.
2.      Ilmu menuntut kejujuran intelektual artinya ilmu menerima fakta apapun kendati fakta-fakta tersebut bertentangan dengan harapan dan keinginan penelitinya.
3.      Ilmu menunda penyimpulan sampai kecenderungan yang jelas muncul.Skeptisisme yang sehat dan kesediaan untuk menunda penyimpulan adalah unsur yang essensial untuk menjadi seorang ilmuwan.
3.    Ilmu adalah pencarian terhadap tatanan dan kaidah hubungan
        Semua ilmu dimulai dari observasi terhadap peristiwa-peristiwa tunggal dan kemudian berusaha menyimpulkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah umum dari peristiwa-peristiwa tersebut.singkatnya ,metode ilmiah terdiri dari prediksi, kontrol, dan deskripsi.

2.     Pengondisian
          Menurut Skinner ada 2 pengondisian yaitu:
·         Pengondisian klasik (pengondisian responden)
            Sebuah respon diharapkan muncul dari organisme lewat satu stimulus spesifik yang sudah diketahui.Dalam pengodisian klasik (classicalconditioning) stimulus netral (yang dikondisikan) dipasangkan dengan stimulus yang tidak dikondisikan,persisnya stimulus sebelum pengondisian beberapa kali hingga dia sanggup mengeluarkan respon yang tidak dikondisikan sebelumnya.Contoh paling sederhana adalah tindakan refleks misalnya cahaya yang disinarkan kemata menstimulasi pupil untuk berkontraksi.
·         Pengondisian operan (pengondisian skinnerian)
Sebuah perilaku yang diharapkan muncul setelah mendapat penguatan.Kunci bagi pengondisian operan adalah penguatan segera terhadap respon.

1.      Pembentukan
            Pembentukan (shaping)adalah prosedur yang didalamnya peneliti atau lingkungan menilai perilaku secara umum ,kemudiam menilainya secara lebih dekat lagi,baru akhirnya dapat menggarap perilaku yang diinginkan Melaui proses penguatan terhadap pendekatan bertahap seperti ini, peneliti atau lingkungan secara bertahap membentuk kompleks perangkat perilaku final.pembentukan dapat diilustrasikan dengan contoh melatih anak laki-laki mengenakan pakaian sendiri.perilaku final yang diinginkan yaitu dia sanggup mengenakan pakaiannya dengan lengkap.Dari contoh tersebut akan muncul 3 kondisi yaitu anteseden (A,Antecedent) yang mengacu pada lingkungan atau tempat dimana itu terjadi,perilaku (B,behavior), konsekuensi (C, Consequecy) berupa penghargaan.

2.      Penguatan
Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
b. Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
3. Hukuman
Tujuan penghukuman yaitu untuk mencegah manusia melakukan tindakan-tindakan tertentu.Penghukuman mempunyai efek sebagai berikut :
1.    Menekan perilaku
2.    Pengondisian perasaan-perasaan negatif
3.    Penyebaran efek-efek tersebut
4.    Penguat-penguat yang dikondisikan dan digeneralisasikan
1.    Penguat yang dikondisikan (pengondisian sekunder) adalah stimuli lingkungan yang pada hakekatnya tidak langsung memberikan kepuasan namun dijadikan demikian karena diasosiasikan dengan penguat-penguat primer yang tidak dipelajari.Uang adalah penguat yang dikondisikan karena dapat ditukarkan dengan penguat primer.Selain itu uang juga menjadi penguat yang digeneralisasikan karena berkaitan dengan lebih dari satu penguat primer.Skinner menemukan lima penguat yang digeneralisasikan yang selalu mempertahankan sebagian perilaku manusia yaitu perhatian, persetujuan, afeksi, ketundukan pada orang lain dan kepemilikan
5.    Jadwal-Jadwal Penguatan
Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama adalah
1). Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respon.
2). Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respon, akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat diperidiksi.
3). Jadwal interval - tetap : respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan diperkuat.
4). Jadwal interval - variabel : suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu.
6. Pemadaman
Meskipun sudah dipelajari, respon masih dapat karena empat alasan yaitu :
1.    Respon bisa dilupakan setelah beberapa waktu
2.    Respon dapat hilang jika ada campur tangan dari proses pembelajaran lain sebelum atau sesudahnya
3.    Respon dapat hilang akibat penghukuman
4.    Kecenderungan respon yang sudah diperoleh sebelumnya unyuk menjadi progresif dan melemahkan respon sesudahnya yang sudah tidak lagi mendapat penguatan
Pemadaman operan (operant extinction) terjadi ketika peneliti secara sistematis melakukan penguatan terhadap respons yang sudah dipelajari sebelumnya hingga probabilitas respons yang baru merosot hingga titik nol.Rasio pemadaman bergantung sepenuhnya kepada jadwal penguatan dimana pembelajaran terjadi.
Jika dibandingkan dengan respon-respon yang dihasilkan dari jadwal penguatan-berkesinambungan, perilaku yang dilatih berdasarkan jadwal penguatan sebentar-sebentar jauh lebih resisten terhadap pemadaman.Skinner mengamati sekitar 10.000 respon yang tidak mendapat penguatan dalam penjadwalan sebentar-sebentar malah cenderung terus berulang dan tidak bisa lagi dibedakan dari perilaku yang secara fungsional otonom.Secara umum semakin tinggi tingkat respons di setiap penguatan, semakin sedikit respons yang harus dibuat organisme, atau semakin pendek waktu yang dibutuhkan di anatara penguat-penguat yang ada,semakin cepat pemadaman terjadi.Temuan ini menunjukkan bahwa pujian dan penguat lainnya mestinya digunakan secara berdampingan ketika melatih anak- anak.Kepunahan itu sendiri jarang diaplikasikan secara sistematis kepada perilaku mmanusia diluar terapi atau modifikasi perilaku.


Organisme Manusia
Skinner (1953, 1990a) setuju dengan John Watson (1913) bahwa psikologi harus membatasi diri kepada studi ilmiah terhadap fenomena yang bisa diamati yang disebut perilaku.
Menurut Skinner perilaku manusia (kepribadiannya) dibentuk oleh tiga daya yakni :
1.    Seleksi Alam
Kepribadian manusia adalah produk dari sejarah evolusi yang panjang. Seleksi alam memainkan peran penting dalam kepribadian manusia.
Meskipun seleksi alam membantu pembentukan sejumlah perilaku manusia, mungkin dia bertanggung jawab hanya bagi sejumlah kecil tindakannya. Skinner menyatakan bahwa kebutuhan kuat terhadap penguatan, khususnya yang sudah membentuk budaya manusia, bertanggung jaawab bagi kebanyakan perilaku manusia.

2.        Evolusi Budaya
Seleksi bertanggung jawab bagi praktik-praktik budaya orang-orang yang sudah bertahan, sama seperti seleksi memainkan peran kunci dalam sejarah evolusi manusia dan kebutuhan kuat terhadap penguatan.
Praktik-praktik budaya seperti pembuatan alat dan perilaku berbahasa dimulai ketika seorang individu diperkuat untuk menggunakan sebuah alat atau mengucapkan suara yang berbeda.
Sisa-sisa kebudayaan, seperti bekas-bekas seleksi alam, tidak semuanya adaptif. Contohnya, pembagian kerja yang berkembang dari Revolusi Industri sudah banyak membantu masyarakat menghasilkan lebih banyak barang namun, dia sudah mengarahkan manusia kepadaa kerja yang tidak lagi memperoleh penguatan langsung.

3.        Kondisi-Kondisi Batin
Meskipun menolak penjelasan tentang perilaku berdasarkan konstrak hipotetis yang tidak bisa diamati namun, Skinner tidak menyangkal keberadaan kondisi-kondisi batin, seperti rasa cinta, rasa cemas, atau rasa takut. Kondisi batin bisa dipelajari sama seperti perilaku lainnya namun, pengobservasiannya memang agak terbatas.Kondisi – kondisi batin meliputi
a.       Kesadaran Diri
b.      Dorongan-Dorongan
c.       Emosi
d.      Tujuan dan Niat

Perilaku Kompleks
Perilaku manusia dapat terus bergerak menjadi kompleks, namun Skinner percaya bahkan perilaku paling abstrak dan kompleks dibentuk oleh seleksi alam, evolusi budaya atau sejarah penguatan individu.Skinner tidak menyangkal keberadaan proses – proses mentallebih tinggi seperti kognisi,rasio dan rekoleksi namun dia juga tidak mengabaikan perilaku kompleks manusia seperti kreativitas, perilaku yang tidak disadari, mimpi, dan perilaku social.
1.   Proses-Proses Kejiwaan Lebih Tinggi
Pikiran manusia adalah bidang perilaku yang paling sulit dianalisis,tetapi minimal secara potensial, dia bisa dipahami selama kita tidak mengandalkan fiksi hipotetis seperti “jiwa”. Berpikir, memecahkan masalah dan memaknai adalah perilaku menyolok yang berlangsung dalam diri seseorang namun tidak pada “jiwa”. Menurut behaviris, proses-proses ini tunduk pada kebutuhan kuat terhadap penguatan yang sama seperti perilaku yang dapat terlihat.
Pemecahan masalah juga melibatkan perilaku yang terlihat, bahkan sering mengharuskan seseorang memanipulasi terang-terangan variabel-variabel yang relevan hingga solusi yang benar ditemukan.
2.      Kreativitas
Skinner membandingkan perilaku kreativitas dan seleksi alam dalam teori evolusi. “Ketika sifat aksidental yang muncul dari mutasi dipilih lantaran kontribusi mereka bagi kelangsungan hidup, maka variasi akseden dalam perilaku dipilih berdasarkan konsekuensi-konsekuensi yang paling menguatkan.Bagi Skinner kreativitas hanyalah perilaku acak atau aksidental (terang-terangan atau tersembunyi) yang kemudian mendapatkan penghargaan.
3.      Perilaku yang Tidak Disadari
Manusia jarang mengamati hubungan antara variabel genetic dan variabel lingkungan di satu sisi dengan perilaku mereka di sisi lain, hamper semua perilaku kita dimotivasikan secara tidak sadar.
Perilaku adalah alam bawah sadar yang dilabelkan ketika manusia tidak lagi memikirkannya karena sudah ditekan lewat penghukuman. Perilaku yang memiliki konsekuensi tidak diinginkan cenderung diabaikan atau tidak dipikirkan.

4.      Mimpi
Skinner menganggap mimpi sebagai bentuk tersembunyi dan simbolis perilaku yang utama bagi penguatan, sama seperti perilaku lainnya. Mimpi bisa berfungsi sebagai pemenuhan harapan. Perilaku mimpi diperkuat ketika stimuli seksual atau agresi yang direpresi mulai mengekspresikan dirinya.
5.      Perilaku Sosial
Kelompok-kelompok  manusia tidak memiliki sikap, hanya individu. Individu-individu ini membentuk kelompok karena memperoleh penghargaan dengan bertindak demikian.Namun keanggotaan di sebuah kelompok social tidak selalu menguatkan, minimal karena tiga alasan maka orang masih tetap setia menjadi anggota suatu kelompok. Pertama, manusia masih bertahan di suatu kelompok meskipun dirinya dianiaya karena da sejumlah anggota kelompok yang mengguatkannya. Kedua, beberapa orang khususnya anak-anak, tidak memiliki cara untuk meninggalkan kelompok. Ketiga, penguatan terjadi dalam bentuk penjadwalan sebentar-sebentar sehingga penganiayaan yang diderita seseorang bisa berpotongan dengan momen-momen penghargaan. Jika penguatan positif terasa cukup kuat, maka efeknya akan lebih kuat ketimbang penghukuman.

Kontrol terhadap Perilaku Manusia
Perilaku individu dikontrol oleh desakan lingkungan. Desakan ini bisa diwujudkan oleh masyarakat, oleh individu tertentu, atau oleh diri kita sendiri namun, lingkunganlah, bukannya kehendak bebas, yang bertanggung jawab bagi kemunculan perilaku tersebut.

1.      Kontrol Sosial (Social Control)
Individu bertindak untuk membentuk kelompok-kelompok social karena perilaku ini cenderung diperkuat. Kelompok, sebaliknya, melakukan control terhadap anggota-anggotanya dengan merumuskan hukum, aturan dan kebiasaan tertulis atau tidak yang memiliki keberadaan fisik melampaui kehidupan individu. Hukum bangsa, aturan organisasi, dan kebiasaan budaya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengatasi cara individu bereaksi terhadap control dan semakin menghujamkan variabel-variabel pengontrolan ke dalam hidup anggota-anggotanya.
Masing-masing dari kita dikontrol oleh beragam kekuatan dan teknik-teknik social, tetapi semua ini dapat dikelompokkan menjadi 4 hal : 1) pengondisian operan, 2) keterbatasan deskripsi, 3) kondisi kekurangan dan keberlimpahan, dan 4) batasan-batasan fisik.

2.      Kontrol Diri (Self Control)
Skinner dan Margaret Vaughan sudah membahas beberapa teknik yang dpat digunakan seseorang untuk melatih control diri tanpa harus berpijak kepada pilihan bebas.
1.         Mereka dapat menggunakan bantuan-bantuan fisik, seperti alat, mesin, dan sumber keuangan untuk mengubah lingkungannya.
2.         Pribadi dapat mengubah lingkungannya, sehingga meningkatkan probabilitas perilaku yang diinginkan.
3.         Manusia dapat mengatur lingkungannya agar lepas dari stimulus yang berkebalikan dan menghasilkan respon yang tepat.
4.         Manusia dapat mengonsumsi obat-obatan, khususnya alcohol, sebagai alat mengontrol diri.
5.         Manusia dapat melakukan sesuatu agar menghindari perilaku yang tidak diinginkan.

Kepribadian Yang Tidak Sehat
Sayangnya teknik-teknik control social dan control diri kadang kala menghasilkan efek-efek merusak, yang pada gilirannya memunculkan perilaku tidak tepat dan perkembangan pribadi tidak sehat.
1.      Strategi-Strategi Perlawanan
Ketika control social terlalu berlebihan, manusia dapat menggunakan tiga strategi dasar untuk menghadapinya – melarikan diri, memberontak atau menggunakan perlawanan pasif (Skinner, 1953)
2.      Perilaku-Perilaku yang Tidak Tepat
Perilaku yang tidak tepat berasal dari teknik-teknik yang mempecundangi diri ketika melawan control social atau ketika gagal mengontrol diri, khususnya jika kegagalan ini terpadu dengan emosi yang kuat.
Perilaku yang tidak tepat meliputi perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi, tetapi mungkin cocok jika dilihat berdasarkan sejarah masa lalunya, perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang tidak diinginkan terkait penghukuman, dan akhirnya,perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja stimuli yang tidak diinginkan. Perilaku tidak tepat lainnya adalah menghukum diri, menggunakan orang lain untuk menghukum dirinya, atau mengubah lingkungan agar mereka bisa dihukum

PSIKOTERAPI
Skinner mengklaim bahwa psikoterapi tradisional merupakan salah satu penghalang utama psikologi menjadi ilmiah. Namun gagasannya tentang membentuk perilaku bukan hanya memiliki pengaruh signifikan bagi terapi perilaku, tetapi juga meluas sampai deskripsi bagaimana semestinya terapi bekerja.
Di luar orientasi teoretisnya, seorang terapis adalah agen pengontrol. Tidak semua agen pengontrol berbahaya dan pasien harus belajar membedakan antara figur otoritas yang sifatnya mengadili (entah pengalaman masa lalu maupun orientasi ke depan) dan terapis yang permisif.
Pembentukan perilaku apa pun memerlukan waktu, dan perilaku terapi tanpa terkecuali. Seorang terapis membentuk perilaku yang diinginkan dengan memperkuat perubahan perilaku menjadi lebih baik. Terapis nonbehavioral mungkin akan mempengaruhi perilaku secara kebetulan atau tanpa diketahui, sedangkan terapis behavioral secara khusus mengfokuskan diri kepada teknik ini.
Para terapis behavioristik sudah mengembangkan beragam teknik selama bertahun-tahyn, kebanyakan didasari kepada pengondisian operan, meskipun beberapa dibangun di sekitar prinsip pengondisian klasik (responden). Pada umumnya, para terapis behavioral ini berperan aktif dalam proses perawatan, memfokuskan diri pada konsekuensi positif perilaku tertentu dan efek-efek yang tidak dikehendaki dari orang lain, dan yakin kalau perilaku dalam jangka waktu tertentu akan menghasilkan penguatan positif.

Riset – Riset Terkait
Diawal sejarahnya, pengondisian operan banyak digunakan untuk mempelajari hewan, lalu diaplikasikan kepada respon sederhana manusia,tetapi kemudian gagasan Skinner ini dipakai diberbagai studi perilaku kompleks manusia.Beberapa studi ini memfokuskan diri pada hubungan antara pla – pola perilaku jangka panjang (Kepribadian) dan kebutuhan kuat terhadap penguatan.Studi – studi ini umumnya terdiri atas dua bentuk yaitu sejauh mana pengondisia memengaruhi kepribadian dan sejauh mana kepribadian memengaruhi pengondisian.
1.      Bagaimana Pengondisian Mempengaruhi Kepribadian.
Salah satu asumsi dasar pengondisian skinner adalah penguatan membentuk perilaku. Mengenai pribadi yang ketagihan obat – obatan, karena perawatan yang berhasil mensyaratkan penguat (obat – obatan) kehilangan nilai penguatnya. Contohnya : bagi perokok, nikotinnya secara bertahap harus dapat menjadi penguat negative, sama seperti tegangan ringan menjadi hilang lantaran efek dari obat.
2.      Bagaimana  Kepribadian Mempengaruhi Pengondisian
Beberapa ribu studi hewan dan manusia sudah menunjukan bahwa kekuatan pengondisian dapat mengubah perilaku / kepribadian. Namun pada manusia terlihat jelas bahwa pribadi yang berbeda merespon secara berbeda terhadap penguatan yang sama, sehingga kepribadian di duga menjadi elemen penting penyebabnya.
Yang juga di perhitungkan sebagai studi adalah partisipan di nilai negative jika menuliskan ketergantungan kepada zat lain lebih besar dari nikotin, jika mengaku tidak ada masalah psikologis, dan jika perempuan, mereka akan di nilai negative jika mempraktikan kotrol KB sesuai setandar medis dan masih merokok selama hamil.
Hasil riset menunjukan adanya efek sedikit damfetamin terhadap peningkatan aktifitas perokok. Namun juga di temukan perbedaan individual yang sinifikan, dan ketika menguji efek-efek dari pembandingan responder dengan nonresponder, efek ini semaki jelas.
 MODIFIKASI PERILAKU
Modifikasi Perilaku (Behavior Modification) adalah usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia. Belajar adalah suatu proses yang mana perubahan–perubahan yang bersifat relatif permanen terjadi dalam potensi perilaku sebagai suatu akibat pengalaman. Gangguan perilaku terjadi karena pengalaman yang salah (faulty learning). Misalnya belajar dengan benar tentang contoh perilaku yang tidak baik atau belajar dengan salah contoh perilaku yang baik.

Pandangan behaviorist:
1.        Klasik
Modifikasi perilaku sebagai penggunaan secara sistematik teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku tertentu atau mengontrol lingkungan perilaku tersebut. Jika teknik kondisioning diterapkan secara ketat, dengan stimulus, respon dan akibat konsekuensi diharapkan terbentuk perilaku lahiriah yang diharapkan.
2.        Operant
Modifikasi perilaku akan terbentuk ketika penguat atau pengukuh diberikan berupa reward atau punishment.

3.        Behavior Analist
Modifikasi perilaku merupakan penerapan dari psikologi eksperimen seperti dalam laboratorium. Proses, emosi, problema, prosedur, semua diukur. Pengubahan perilaku dilaksanakan dengan rancangan eksperimen dibuat dengan cermat. Perilaku dihitung secara cacah untuk mendaparkan data dasar. Variabel bebas dimanipulasi, metode statistik digunakan untuk melihat perubahan perilaku, pengulangan jika perlu dilakukan hingga terjadi perubahan perilaku secara jelas.
Modifikasi Tingkah Laku
Ø  Pembanjiran (Flooding)
Membanjiri klien dengan situasi atau penyebab yang menimbulkan kecemasan atau tingkah laku yang tidak dikehendaki dan bertahan disana sampai individu yang bersangkutan menyadari bahwa malapetaka yang dicemaskan tidak terjadi.
Ø  Terapi Aversi
Pada terapi ini penaturan kondisi aversi diciptakan oleh terapis.Keberhasilaan suatu treatmen menuntut kerja keras dari klien dan bantuan yang optimal dari terapis.
Ø  Pemberian Hadiah atau Hukuman Secara Selektif (Selektif Reward / Punishment)
Strategi terapi ini untuk memperbaiki tingkah laku ank dengan melibatkan figure disekeliling anak sehari-hari, khususnya orangtua dan guru.
Ø  Latihan Ketrampilan Sosial
Latihan ini banyak dipakai untuk membantu penderita depresi (yang dianggap sebagai akibat dari perasaan tidak mendapatkan hadian atau perhatian yang memadai dari lingkungan) yang mungkin karena tidak mamiliki ketrampilan untuk memperolehnya.
Ø  Kartu Berharga (Token Economy)
Teknik yang didasarkan pada prinsip pengkondisian operan desain untuk mengubah tingkah laku klien.Intervensi ini dapat dipakai untukmendidik anak dirumah dan disekolah, khususnya pada anak yang lambat belajar, Autistik, dan Delikuensi.

1.      Penerapan Modifikasi Perilaku
Pemberian bantuan intervensi untuk perubahan atau pengembangan yang menguntungkan bagi subjek dan lingkungannya. Modifikasi perilaku juga dapat digunakan sebagai proses untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku yang adaptif. Modifikasi perilaku dianggap sebagai human engineering dalam hal ini. Seperti dalam terapi perilaku untuk menyelesaikan masalah pribadi sosial, bidang pendidikan seperti pengelolaan kelas, penyusunan kurikulum dan disain pembelajaran terprogram.
Aplikasi dari prinsip-prinsip belajar untuk penanggulangan perilaku maladaptif misalnya desensitisasi sistematis berdasarkan teori pengkondisian klasik Pavlov (classical conditioning), modeling dibangun berdasarkan teori Bandura (observational learning) ataupun dengan pembiasaan operant seperti ancangan dari Skinner. Hingga pemutakhiran modifikasi perilaku sebagai upaya yang menggunakan metodologi klinis empiris yang bersifat terbuka terhadap metode baru dan berbeda dari pada menempatkan pada tradisi yang tunggal, mendasarkan pada keyakinan dan evaluasi ilmiah untuk validasi hipotesis klinis dan komitmen melatihkan keterampilan kepada klien dalam teknik-teknik yang klien perlukan untuk mengendalikan kehidupannya lebih adaptif.
2.      Asesmen Perilaku
Behavioral assesment lebih banyak dilakukan dengan teknik non testing (observasi dan wawancara) dari pada teknik testing. Yang ini diperoleh adalah gambaran pola perilaku kehidupan nyata subjek dan akibat dari keadaan lingkungan terhadap pola-pola perilaku tersebut.
Perilaku adalah variabel yang measurable (dapat diukur), observable (dapat diamati), factual (yang sedang terjadi/ berlangsung saat itu), spesific (tergambar secara jelas dalam bentuk perilaku tertentu). Observasi sistemik dapat dilakukan di laboratorium, klinik, kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan untuk mendapatkan informasi psikofisiologis dan kognitif-perilaku, klarifikasi konsistensi atara informasi verbal dan non verbal, menggali tentang perasaan, motivasi yang berhubungan dengan hal yang melahirkan perilaku.Misalnya fobia tempat tinggi, diukur secara objektif pada ketinggian berapa rasa takut dan cemas terjadi. Dalam masalah klien yang memiliki rasa cemas misalnya saat klien harus melakukan diskusi. Penelusuran in vitro dilakukan jika suatu siang klien harus mengikuti diskusi, diperhatikan perilakunya, diukur sejak kapan mulai muncul cemas meski ringan, sampai berlanjut kapan rasa cemas itu menimbulkan pikiran untuk tidak datang ke tempat diskusi, apa ada reaksi penyerta seperti buang air kecil, telapak tangan berkeringat, atau perilaku eksesif lain. Penelusuran in vivo dengan jalan bagaimana reaksi subjek ketika benar-benar menghadapi situasi cemas yang sebenarnya, misalnya beberapa orang berkumpul, lalu subjek dan teman-temannya dipersilahkan berdiskusi, reaksi subjek diamati secara lengkap dan diukur dalam kategori.
Metode asesmen dengan pendekatan ilmiah namun alamiah, pendekatan naturalistik, laporan diri situasi oleh subjek/ klien, pemantauan sendiri, observasi analog, observasi dan rating oleh orang lain yang signifikan.
Analisis fungsi untuk mengungkap faktor-faktor yang menyumbang terjadinya perilaku, yang memelihara perilaku dan tuntutan lingkungan terhadap klien. Hal – hal yang diperlukan dalam analisis fungsi perubahan perilaku, yaitu :
1.         Antecedents adalah segala hal yang mencetuskan perilaku yang dipermasalahkan. Misalnya situasi tertentu, tempat tertentu, atau selagi melakukan aktivitas tertentu.
2.         Behavior adalah segala hal mengenai perilaku yang dipermaslahkan, frekuensi intensitas dan lamanya perilaku tersebut berjalan.
3.         Consequence adalah akibat–akibat yang diperoleh setelah perilaku itu terjadi. Memelihara perilaku yag menjadi masalah dengan jalan memberikan penguat, berupa pujian, perhatian, perasaan lebih tenang, bebas dari tugas dan lain sebagainya.

3.      Dasar Pemikiran Modifikasi perilaku adalah:
·       Terapis adalah trainer/ pelatih yang rasional dan bertindak prediktif, dengan mendeskripsikan secara konkret sasaran perilaku yang akan dimodifikasi dan bukan proses batin seperti dalam pendekatan psikoanalisa misalnya.
·       Langkah demi langkah terencana dengan baik tidak dengan asosiasi bebas atau reflektif.
·       Efektifnya perlakuan, pelatihan, dan proses belajar perilaku dilihat berdasarkan perilaku sasaran apakah berubah seperti yang direncanakan dan selalu dengan evaluasi yang kontinyu.
·       Perilaku adalah sebagai hasil proses belajar yaitu proses nurtureyang dialami manusia.
·       Pendekatan simtomatis terpusat pada gejala perilaku apa yang tampak yang menjadi masalah dan apa yang akan menjadi perilaku sasarannya.
4.       Penolong Profesional Dalam Modifikasi Perilaku
Tujuan dalam pengembangan dan pengubahan perilaku perlu didasari oleh beberapa hal, yaitu :
1.         Metode-metode psikologis dirancang untuk menolong orang-orang berubah menjadi lebih baik, sehingga mereka dapat secara penuh mengembangkan potensi-potensinya dan mempergunakannya dalam kesempatan yang tersedia di lingkungan sosial.
2.         Penekanan bahwa seorang helper professional atau para penolong profesional dapat melayani sebagai konsultan atau guru yang ahli dalam membimbing orang yang cemas, mengalami gangguan psikologis dan memiliki ketidakmampuan sosial yang menjadi concern mereka atau bagi orang lain dan lingkungannya, sehingga bantuan pelatihan dari lingkungan dipertimbangkan.
Karakteristik penolong profesional dalam pengubahan perilaku:
1.         Unilateral.
2.         SistematikFormal.
3.         Interaksi antara penolong dan klien biasanya dibatasi oleh waktu yang spesifik.
4.         Waktu terbatas
5.         Mereka harus mengetahui keterbatasan dan keterampilan klien dan harus memiliki pengetahuan terhadap sumber-sumber yang dapat dipanggil ketika permasalahan menuntut di luar batas kemampuan mereka

APLIKASI TEORI ALLPORT DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu :
1. Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu:
a.    Memilih Penguatan yang efektif
b.    Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu
c.    Memilih jadwal penguatan terbaik
d. Menggunakan Perjanjian (contracting)
e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif
2. Menggunakan dorongan dan pembentukkan
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan terjadi. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran.
3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek, mengganggu diskusi kelas, atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah
a. Menggunakan Penguatan Diferensial.
b. Menghentikan penguatan (pelenyapan)
c. Menghilangkan stimuli yang diinginkan.
d. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman).

0 komentar:

Poskan Komentar

Sekarang Menunjukkan Jam